Tantangan Konflik Nilai Kehidupan


Definisi Konflik Nilai
Pada era sekarang ini, konflik nilai menjadi tantangan yang sangat besar karena sudah sering kali hadir di dalam kehidupan sehari-hari, baik secara perseorangan, keluarga, masyarakat hingga pada negara. Konflik sering disebut sebagai suatu percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Konflik merupakan suatu proses pencapaian tujuan dengan cara melemahkan pihak lawan, tanpa memerhatikan norma dan nilai yang belaku. Sedangkan, nilai merupakan sesuatu yang dicari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai, dan diinginkan, atau lebih singkatnya nilai adalah sesuatu yang baik.

Kedua hal, apabila dikaitkan menjadi konflik nilai sebagai proses kehidupan yang mengandung pertentangan karena perbedaan pandangan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Konflik nilai dapat disebut sebagai pertentangan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adanya bentuk pertentangan pada nilai kesopanan antar individu maupun kelompok sosial di masyarakat.

Pandangan Menurut Para Ahli
Kilman dan Thomas (1978), yang mengatakan bahwa konflik merupakan kondisi terjadinya tidak cocokkan antar nilai atau tujuan-tujuan yang ingin dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain. Kondisi yang telah dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya emosi atau stres yang memengaruhi efisiensi dan produk.

Nurdjana (1994), yang mengatakan bahwa konflik sebagai akibat dari situasi di mana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara yang satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.

Penyebab Terjadinya Konflik
Konflik bersifat universal. Konflik itu bisa terjadi di semua waktu dan tempat. Tidak pernah ada masyarakat di mana, baik beberapa individu atau kelompok tidak terlibat konflik.

Menurut Darwin, bahwa adanya prinsip perjuangan untuk eksistensi dan bertahan hidup adalah penyebab utama dari konflik. Menurut Freud, bahwa naluri bawaan untuk beragresi dalam diri manusia adalah penyebab utama dari konflik. Secara singkat disebutkan penyebab adanya konflik, antara lain perbedaan individu, perbedaan budaya, benturan kepentingan, perubahan sosial, dan perubahan tingkah laku.

Perbandingan Timbulnya Konflik
Timbulnya konflik dalam diri seseorang dapat berbeda, seperti konflik interpersonal dan intrapersonal. Konflik interpersonal, konflik ada di antara dua orang. Konflik antar pribadi dapat dilihat setiap kali dua orang tidak setuju pada suatu topik tertentu. Contohnya, adalah dua orang mahasiswa yang sedang berdebat tentang politik terkait ada rancangan undang-undang menimbulkan keluhan di masyarakat. Karena memiliki kesukaan yang berbeda, menikmati hal yang berbeda, dan melihat dunia dari perspektif yang berbeda, konflik antar pribadi pasti sering terjadi.

Konflik intrapersonal, ketika seseorang yang merasa sedang berkonflik dengan pikiran atau tindakannya sendiri. Misalnya, seperti di saat seseorang yang ingin menyampaikan permohonan maaf karena sudah melakukan kesalahan, namun dalam dirinya sendiri merasa gengsi dan malu untuk meminta maaf dulu, sehingga dia pun tidak jadi minta maaf dan malah mengharap maaf dari orang lain tersebut. Putusnya kata dan tindakan seseorang dapat menyebabkan kekacauan internal. Konflik intrapersonal merupakan pertarungan psikologis bagi orang yang sedang mengalaminya. Meskipun, konflik intrapersonal ini bisa jadi sulit, tetapi penyelesaian menghasilkan pemahaman yang kuat tentang diri sendiri.

Contoh Kasus Konflik Nilai
Seiring berjalannya waktu, nilai pada perilaku seseorang mulai semakin minim. Hal ini dapat dilihat dan terjadi karena adanya pengaruh dari luar dan perubahan era dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, saja budaya mencium tangan guru dan bersalaman dengan seseorang di luar mulai diantisipasi oleh masyarakat karena untuk mengurangi penyebaran pandemi virus corona. Padahal, hal ini menjadi budaya yang sangat kental masyarakat Indonesia karena terdapat nilai berupa bentuk penghormatan pada seseorang. Pembiasaan ini mulai dibatasi karena sebagai bentuk kepedulian masyarakat untuk saling menjaga satu sama lain. Walaupun begitu, agar generasi tidak lupa nilai kesopanan itu, pada waktu tertentu orang tua masih membiasakan dan mengingatkan budaya cium tangan dan bersalaman kepada anaknya di rumah.

Selain itu, di era digital yang serba canggih membuat seseorang menjadi mudah untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain. Namun disayangkan dari sini, nilai dalam berkomunikasi seseorang mulai semakin minim karena pengaruh dari teknologi dan budaya luar. Misalnya saja, nilai kesopanan dalam berkomunikasi dengan orang lain semakin hilang pada anak-anak zaman sekarang. Budaya mengucapkan salam sebelum memulai obrolan sudah tidak dihiraukan lagi. Para remaja dengan senangnya mengirimkan stiker dan kata Ping atau P pada seseorang, mulai dari teman, orang tua, dan bahkan bisa guru atau orang yang lebih tua. Dapat dilihat, bahwa nilai akan kesopanan anak-anak dan remaja mulai diragukan. Mereka perlu diberikan pendidikan bahwa boleh saja tetap melakukan hal-hal tersebut pada teman, tetapi tidak boleh pada orang tua dan gurunya karena menjadi kebiasaan yang sangat buruk bahkan kurang terpuji. Kepada teman pun jangan sampai berlebihan yang mana hingga menjadi kebiasaan.

Apabila hal-hal itu terus dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan buruk ke depannya karena tidak ada acuan yang harus dicontoh oleh anak-anak dan remaja. Pembiasaan yang baik harus diberikan agar tidak terjadi konflik nilai antar seseorang dengan orang lain yang mana akan menyebabkan kemarahan.

Pandu Rudy Widyatama

Perkenalkan, nama saya Pandu Rudy Widyatama. Saya biasanya dipanggil dengan nama sebutan Pandu. Saya seorang mahasiswa S1 PPKn dan sedang mengenyam pendidikan di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Posting Komentar

Ayo Berbagi Pengetahuan

Lebih baru Lebih lama