Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an merupakan anugerah luar biasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut tercermin dalam keberagaman suku, budaya, agama, adat istiadat, ras, etnis, dan yang lain sebagainya. Keberagaman sebagai kekuatan dan fondasi penting berdirinya negara Indonesia, sehingga dari situ perlu untuk dijaga dan dilestarikan dengan baik melalui berbagai macam upaya nyata agar nantinya tidak timbul perpecahan. Sekolah sebagai miniatur dari masyarakat yang mana memiliki peranan penting dalam menumbuhkan harmoni persatuan dan kesatuan di antara siswa.
Sekolah sebagai wadah penyatu keberagaman karena menjadi tempat bagi para siswa untuk memahami perbedaan, menghargai keberagaman, dan menjalin persaudaraan yang erat tanpa memandang latar belakang satu sama lain. Guru berperan penting menjadi fasilitator yang menuntun para siswanya dalam memahami nilai-nilai dan arti penting Bhinneka Tunggal Ika secara seutuhnya melalui berbagai langkah belajar. Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya sekadar semboyan tetapi juga ruh dari bangsa Indonesia itu sendiri. Semangat persatuan dalam perbedaan ini perlu untuk ditanamkan sejak dini di sekolah.
Merajut keberagaman melalui pendidikan adalah proses yang perlu diselenggarakan secara terencana dan terpadu serta memerlukan komitmen dari semua pihak, baik siswa, guru, dan warga sekolah. Bhinneka Tunggal Ika tidak bisa diwujudkan begitu saja dengan teori, tetapi juga praktik dan langkah pembiasaan melalui kegiatan-kegiatan yang mana akan menyiratkan arti pentingnya secara perlahan. Banyak sekali kegiatan di sekolah terutama di SMP Negeri 39 Surabaya yang jika diperhatikan secara seksama sebenarnya mengandung arti dari Bhinneka Tunggal Ika itu. Melalui artikel ini akan dijabarkan secara mendalam apa saja langkah yang diupayakan oleh sekolah terutama SMP Negeri 39 Surabaya dalam memperkuat rasa Bhinneka Tunggal Ika pada siswanya bahkan warga sekolah.
1. Upacara
Bendera sebagai Simbol Pemersatu Keberagaman di Bawah Naungan Bendera Merah
Putih
Siswa Mengikuti Upacara Bendera Hari Senin (Sumber Gambar: Dokumentasi Sekolah)
Setiap hari Senin pagi yang diiringi
dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya bangkitlah semangat para
generasi muda terutama siswa SMP Negeri 39 Surabaya untuk bisa mengibarkan
bendera merah putih yang gagah di lapangan sekolah. Para warga sekolah, baik
siswa, guru, dan tenaga kependidikan hormat dengan sepenuh hati untuk
menghormati jasa dari perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi melawan
penjajah serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Upacara bendera
bukan hanya sekadar kegiatan rutin, tetapi juga momen sakral yang bertujuan
untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme di antara siswa. Dari
kesederhanaannya, upacara bendera tersisip makna yang cukup istimewa dalam
menyatukan perbedaan antar siswa.
Upacara bendera menjadi simbol dari
persatuan bangsa, hal ini karena di bawah bendera yang sama, seluruh siswa di
sekolah bersatu padu tanpa memandang berasal dari suku, agama, ras, dan budaya
satu sama lain. Dari kegiatan inilah yang menjadi pengingat bahwa sebuah
keberagaman ini sebagai dasar kesatuan bangsa dan perbedaan bukanlah menjadi
halangan untuk bisa bersatu. Upacara bendera pastinya dihadiri oleh seluruh
siswa dengan latar yang berbeda, misal ada yang berasal dari Jawa, Madura, atau
luar Jawa. Momen kebersamaan itulah yang menjadi wadah guna mewujudkan perasaan
untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada dalam dirinya satu
salam lain.
Dari situ upacara bendera bukan
hanya kegiatan pembiasan rutin, tetapi menjadi sebuah pembelajaran yang
tersirat. Upacara bendera menjadi momen untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai
kebangsaan, sikap dan rasa toleransi antar sesama, dan cinta terhadap tanah air
dan bangsa. Melalui semangat Bhinneka Tunggal Ika, upacara bendera pula menjadi
langkah awal dalam membangun generasi muda penerus pendidikan yang bersatu dan
berbakti dalam rangka menjaga keberlangsungan kehidupan bangsa.
2. Diskusi
Kelompok sebagai Wujud Penghayatan Bhinneka Tunggal Ika dalam Pembelajaran
Bersama Siswa
Siswa Kelas 8-C Sedang Bermain Papan Permainan Nusantara (Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi)
Dalam proses pembelajaran yang mana
pastinya tidak hanya sekadar memindahkan ilmu begitu saja dari satu orang ke
orang yang lain hanya melalui ucapan maupun selembar kertas. Pembelajaran lebih
dari itu, yaitu memberikan makna berharga bagi seseorang untuk belajar dari
yang tidak diketahuinya menjadi diketahuinya. Pembelajaran bukan berujung pada
teori saja, tetapi juga praktik secara terencana yang mana nantinya akan
menjadi pembiasaan dalam diri sehingga membentuk pribadi yang berkarakter.
Salah satu dari proses pembelajaran
yang mengandung sebuah makna berharga adalah diskusi kelompok. Diskusi kelompok
merupakan salah satu dari metode pembelajaran yang mana sangat efektif guna
menguatkan penghayatan dari Bhinneka Tunggal Ika di antara siswa di dalam
kelas. Diskusi kelompok memungkinkan siswa dengan latar belakang yang berbeda
untuk bisa saling bertukar pikiran, ide, dan gagasan yang secara tidak langsung
juga akan mendorong mereka untuk saling memahami satu sama lain dan menghargai
perbedaan dalam berpendapat. Dalam proses diskusi kelompok sendiri, siswa
belajar untuk saling mendengarkan dengan baik, menerima sebuah kritikan dengan
lapang dada, dan juga menyampaikan pendapat yang dimilikinya dengan baik dan
sopan.
Diskusi kelompok juga dalam
praktiknya menuntut siswa untuk bekerja sama dalam mencapai tujuannya secara
bersama-sama. Mereka di sini diarahkan untuk saling membantu, membagi tugas
dengan anggota sekelompoknya, dan juga menyelesaikan masalah secara
bersama-sama. Hal tersebut terlihat dari para siswa terutama siswa kelas 8-C
yang saya ajar pada PPL 1, para siswa saya ajak untuk belajar sembari bermain
menggunakan papan media nusantara. Papan media nusantara tersebut berisi
pertanyaan, hukuman, dan kartu ajaib yang memberikan keseruan bagi siswa yang
memainkannya. Ada kelompok yang mendapat kartu hukuman, ada kelompok yang
mendapat kartu pertanyaan sehingga harus mencari jawaban secara bersama-sama,
dan bahkan ada yang mendapat kartu ajaib sehingga selalu melewati kotak
pertanyaan dan hukuman. Pengalaman tersebut inilah yang memupuk rasa persatuan
dan kesatuan di antara siswa.
Kedua kegiatan yang ada tersebut
berupa upacara bendera dan diskusi kelompok yang mana apabila ditarik benang
merahnya maka akan ditemukan jawaban bahwa keduanya adalah bagian dari
penghayatan nilai-nilai Pancasila. Melalui kegiatan upacara bendera dan proses
pembelajaran yang menerapkan diskusi kelompok sebagai wujud dari penghayatan
nilai-nilai dari Pancasila terutama pada sila yang ketiga Persatuan Indonesia yang
mana para siswa yang terlibat akan dituntut untuk tidak membeda-bedakan suku,
agama, ras, dan budaya mereka satu sama lain, sehingga dari pembiasaan yang
terus-menerus dan berulang-ulang akan dapat mewujudkan rasa persatuan dan
kesatuan terhadap bangsanya, yaitu Indonesia.
Selain itu, dari kedua kegiatan yang
dilakukan mengacu pada proses yang melibatkan banyak orang yang beragam dengan
memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kegiatan inilah yang menjadi dasar
meminimalisir sikap yang mengarah pada kesenjangan sosial yang tidak selayaknya
dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia sebagai sosok manusia
yang berkumpul pada tempat yang sama dengan tujuan yang sama bahkan berasal
dari latar belakang yang berbeda seharusnya harus mampu menghayati apa yang
menjadi dasar dari nilai-nilai Pancasila tersebut salah satunya terwujud rasa
persatuan. Dengan penghayatan nilai Pancasila yang konsisten sejak dini seperti
halnya melalui lingkungan sekolah diharapkan menciptakan manusia Indonesia yang
bermoral dan berbudi pekerti luhur.