Merajut Harmoni Keberagaman Siswa di SMP Negeri 39 Surabaya melalui Penguatan Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang Hakiki

Karya Oleh: Pandu Rudy Widyatama (2300103913154017), Mahasiswa PPG Prajabatan Program Studi PPKn Universitas Negeri Surabaya Gelombang 1 Tahun 2024

Mengukir Lambang Negara Pancasila (Sumber Gambar: Merdeka.com)

    Ke-Bhinneka Tunggal Ika-an merupakan anugerah luar biasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Hal tersebut tercermin dalam keberagaman suku, budaya, agama, adat istiadat, ras, etnis, dan yang lain sebagainya. Keberagaman sebagai kekuatan dan fondasi penting berdirinya negara Indonesia, sehingga dari situ perlu untuk dijaga dan dilestarikan dengan baik melalui berbagai macam upaya nyata agar nantinya tidak timbul perpecahan. Sekolah sebagai miniatur dari masyarakat yang mana memiliki peranan penting dalam menumbuhkan harmoni persatuan dan kesatuan di antara siswa.    

    Sekolah sebagai wadah penyatu keberagaman karena menjadi tempat bagi para siswa untuk memahami perbedaan, menghargai keberagaman, dan menjalin persaudaraan yang erat tanpa memandang latar belakang satu sama lain. Guru berperan penting menjadi fasilitator yang menuntun para siswanya dalam memahami nilai-nilai dan arti penting Bhinneka Tunggal Ika secara seutuhnya melalui berbagai langkah belajar. Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya sekadar semboyan tetapi juga ruh dari bangsa Indonesia itu sendiri. Semangat persatuan dalam perbedaan ini perlu untuk ditanamkan sejak dini di sekolah.

    Merajut keberagaman melalui pendidikan adalah proses yang perlu diselenggarakan secara terencana dan terpadu serta memerlukan komitmen dari semua pihak, baik siswa, guru, dan warga sekolah. Bhinneka Tunggal Ika tidak bisa diwujudkan begitu saja dengan teori, tetapi juga praktik dan langkah pembiasaan melalui kegiatan-kegiatan yang mana akan menyiratkan arti pentingnya secara perlahan. Banyak sekali kegiatan di sekolah terutama di SMP Negeri 39 Surabaya yang jika diperhatikan secara seksama sebenarnya mengandung arti dari Bhinneka Tunggal Ika itu. Melalui artikel ini akan dijabarkan secara mendalam apa saja langkah yang diupayakan oleh sekolah terutama SMP Negeri 39 Surabaya dalam memperkuat rasa Bhinneka Tunggal Ika pada siswanya bahkan warga sekolah.

1.   Upacara Bendera sebagai Simbol Pemersatu Keberagaman di Bawah Naungan Bendera Merah Putih

WhatsApp Image 2024-03-05 at 12.59.52.jpeg

Siswa Mengikuti Upacara Bendera Hari Senin (Sumber Gambar: Dokumentasi Sekolah)

    Setiap hari Senin pagi yang diiringi dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya bangkitlah semangat para generasi muda terutama siswa SMP Negeri 39 Surabaya untuk bisa mengibarkan bendera merah putih yang gagah di lapangan sekolah. Para warga sekolah, baik siswa, guru, dan tenaga kependidikan hormat dengan sepenuh hati untuk menghormati jasa dari perjuangan para pahlawan yang telah gugur demi melawan penjajah serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Upacara bendera bukan hanya sekadar kegiatan rutin, tetapi juga momen sakral yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme di antara siswa. Dari kesederhanaannya, upacara bendera tersisip makna yang cukup istimewa dalam menyatukan perbedaan antar siswa.

    Upacara bendera menjadi simbol dari persatuan bangsa, hal ini karena di bawah bendera yang sama, seluruh siswa di sekolah bersatu padu tanpa memandang berasal dari suku, agama, ras, dan budaya satu sama lain. Dari kegiatan inilah yang menjadi pengingat bahwa sebuah keberagaman ini sebagai dasar kesatuan bangsa dan perbedaan bukanlah menjadi halangan untuk bisa bersatu. Upacara bendera pastinya dihadiri oleh seluruh siswa dengan latar yang berbeda, misal ada yang berasal dari Jawa, Madura, atau luar Jawa. Momen kebersamaan itulah yang menjadi wadah guna mewujudkan perasaan untuk saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada dalam dirinya satu salam lain.

    Dari situ upacara bendera bukan hanya kegiatan pembiasan rutin, tetapi menjadi sebuah pembelajaran yang tersirat. Upacara bendera menjadi momen untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai kebangsaan, sikap dan rasa toleransi antar sesama, dan cinta terhadap tanah air dan bangsa. Melalui semangat Bhinneka Tunggal Ika, upacara bendera pula menjadi langkah awal dalam membangun generasi muda penerus pendidikan yang bersatu dan berbakti dalam rangka menjaga keberlangsungan kehidupan bangsa.

2.   Diskusi Kelompok sebagai Wujud Penghayatan Bhinneka Tunggal Ika dalam Pembelajaran Bersama Siswa

Picture1j.png

 Siswa Kelas 8-C Sedang Bermain Papan Permainan Nusantara (Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi)

    Dalam proses pembelajaran yang mana pastinya tidak hanya sekadar memindahkan ilmu begitu saja dari satu orang ke orang yang lain hanya melalui ucapan maupun selembar kertas. Pembelajaran lebih dari itu, yaitu memberikan makna berharga bagi seseorang untuk belajar dari yang tidak diketahuinya menjadi diketahuinya. Pembelajaran bukan berujung pada teori saja, tetapi juga praktik secara terencana yang mana nantinya akan menjadi pembiasaan dalam diri sehingga membentuk pribadi yang berkarakter.

    Salah satu dari proses pembelajaran yang mengandung sebuah makna berharga adalah diskusi kelompok. Diskusi kelompok merupakan salah satu dari metode pembelajaran yang mana sangat efektif guna menguatkan penghayatan dari Bhinneka Tunggal Ika di antara siswa di dalam kelas. Diskusi kelompok memungkinkan siswa dengan latar belakang yang berbeda untuk bisa saling bertukar pikiran, ide, dan gagasan yang secara tidak langsung juga akan mendorong mereka untuk saling memahami satu sama lain dan menghargai perbedaan dalam berpendapat. Dalam proses diskusi kelompok sendiri, siswa belajar untuk saling mendengarkan dengan baik, menerima sebuah kritikan dengan lapang dada, dan juga menyampaikan pendapat yang dimilikinya dengan baik dan sopan.

    Diskusi kelompok juga dalam praktiknya menuntut siswa untuk bekerja sama dalam mencapai tujuannya secara bersama-sama. Mereka di sini diarahkan untuk saling membantu, membagi tugas dengan anggota sekelompoknya, dan juga menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Hal tersebut terlihat dari para siswa terutama siswa kelas 8-C yang saya ajar pada PPL 1, para siswa saya ajak untuk belajar sembari bermain menggunakan papan media nusantara. Papan media nusantara tersebut berisi pertanyaan, hukuman, dan kartu ajaib yang memberikan keseruan bagi siswa yang memainkannya. Ada kelompok yang mendapat kartu hukuman, ada kelompok yang mendapat kartu pertanyaan sehingga harus mencari jawaban secara bersama-sama, dan bahkan ada yang mendapat kartu ajaib sehingga selalu melewati kotak pertanyaan dan hukuman. Pengalaman tersebut inilah yang memupuk rasa persatuan dan kesatuan di antara siswa.

    Kedua kegiatan yang ada tersebut berupa upacara bendera dan diskusi kelompok yang mana apabila ditarik benang merahnya maka akan ditemukan jawaban bahwa keduanya adalah bagian dari penghayatan nilai-nilai Pancasila. Melalui kegiatan upacara bendera dan proses pembelajaran yang menerapkan diskusi kelompok sebagai wujud dari penghayatan nilai-nilai dari Pancasila terutama pada sila yang ketiga Persatuan Indonesia yang mana para siswa yang terlibat akan dituntut untuk tidak membeda-bedakan suku, agama, ras, dan budaya mereka satu sama lain, sehingga dari pembiasaan yang terus-menerus dan berulang-ulang akan dapat mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan terhadap bangsanya, yaitu Indonesia.

    Selain itu, dari kedua kegiatan yang dilakukan mengacu pada proses yang melibatkan banyak orang yang beragam dengan memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Kegiatan inilah yang menjadi dasar meminimalisir sikap yang mengarah pada kesenjangan sosial yang tidak selayaknya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia sebagai sosok manusia yang berkumpul pada tempat yang sama dengan tujuan yang sama bahkan berasal dari latar belakang yang berbeda seharusnya harus mampu menghayati apa yang menjadi dasar dari nilai-nilai Pancasila tersebut salah satunya terwujud rasa persatuan. Dengan penghayatan nilai Pancasila yang konsisten sejak dini seperti halnya melalui lingkungan sekolah diharapkan menciptakan manusia Indonesia yang bermoral dan berbudi pekerti luhur.

Pandu Rudy Widyatama

Perkenalkan, nama saya Pandu Rudy Widyatama. Saya biasanya dipanggil dengan nama sebutan Pandu. Saya seorang mahasiswa S1 PPKn dan sedang mengenyam pendidikan di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Posting Komentar

Ayo Berbagi Pengetahuan

Lebih baru Lebih lama