Jadilah Kartini Melalui Instagram


Pendahuluan
Masih ingatkah kalian dengan sosok perempuan hebat bernama Raden Ajeng Kartini? Beliau adalah seorang pejuang emansipasi perempuan yang mengangkat bentuk kesetaraan gender. Namun, sekarang perjuangannya dalam mengangkat derajat perempuan yang kian menghilang ditelan zaman karena perkembangan media sosial. Seiring berjalannya waktu, media sosial mengalami proses perkembangan yang sangat pesat. Pesatnya media sosial menjadikan sarana online satu ini sebagai kebutuhan primer yang diminati, bahkan tidak bisa ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakat yang ada di seluruh dunia termasuk Indonesia. Menurut data dari situs layanan HootSuite, yang mana menunjukkan bahwa pengguna media sosial aktif di Indonesia sebanyak 170 juta orang pada bulan Januari 2021. Jumlahnya meningkat sebanyak 10 juta (+6,3%) antara tahun 2020 dan 2021. Hal ini dapat terjadi karena media sosial yang dapat memudahkan seluruh penggunanya untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan berbagi hal secara langsung melalui jejaring dunia maya. Kehadiran media sosial ini juga membuat para penggunanya secara leluasa untuk mencari tahu informasi milik orang lain melalui data pribadi yang sudah mereka tautkan pada media sosial tersebut. Seperti adanya tampilan foto profil, nama lengkap, status hubungan, lokasi, nomor telepon, e-mail pribadi, alamat rumah maupun kantor, dan yang lain sebagainya. Hal ini menimbulkan seseorang bisa mengenali orang lain yang sebelumnya tidak pernah saling bertemu. Tanpa disadari lebih jauh, media sosial tersebut telah menyebarkan informasi pribadi yang dimiliki oleh seseorang secara langsung dan meluas. Namun, seseorang tersebut juga tidak bisa menyalahkan keamanan privasi media sosial begitu saja, karena hal ini juga diakibatkan dari kelalaian dari para pengguna yang kurang berhati-hati dalam menjaga data pribadinya. Para pengguna yang meremehkan bahaya dari penggunaan media sosial dan juga malah memakainya sebagai sarana untuk mencari kesenangan semata saja, serta mereka belum menyadari sesuatu yang tersembunyi di balik keseruan berselancar maya. Pengguna yang memakai media sosial berasal dari berbagai kalangan, baik dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa. Dari ketika kategori tersebut, remajalah yang menjadi pengguna dengan urutan peringkat teratas dalam mengakses jejaring media sosial. Para remaja yang menjadi salah satu dari pengguna aktif media sosial yang kesehariannya selalu melihat, mengunggah, mengakses, dan berkomunikasi secara maya. Remaja pun sering kali menghabiskan waktu senggang mereka untuk sekedar mengakses informasi di media sosial yang dimilikinya.

Isi
Para remaja biasanya sering mengunggah informasi tentang dirinya dalam biografi media sosial, foto, video, caption, dan cerita yang menunjukkan aktivitas sehari-hari mereka. Remaja tersebut biasanya menggunakan platform media sosial bernama Instagram. Instagram merupakan salah satu dari platform jejaring sosial yang mana dapat membagikan momen dalam bentuk foto, video, cerita, dan bahkan memberikan fitur yang unik dan juga menarik berupa filter digital sehingga mampu memanjakan para penggunanya. Selain filter yang menyenangkan, para remaja juga sangat menyukai Instagram karena mempunyai fitur paling utama berupa followers (pengikut) yang membuat seseorang bagaikan artis yang memiliki fans (penggemar). Remaja ini pada umumnya sering kali menggunakan media sosial Instagram agar lebih dikenal oleh banyak orang, menambah teman, mencari pasangan, dan memancing para pengikut atau penggemar. Bahkan para remaja biasanya mengunggah hal-hal tentang dirinya hanya agar bisa terekspos di dunia maya yang akan membuat dirinya lebih diketahui oleh orang banyak atau yang sering disebut dengan viral. Menjadi semakin terkenal atau viral merupakan impian bagi banyak orang. Tetapi untuk menjadi terkenal atau viral memerlukan usaha karena membuat orang lain menyukainya. Para remaja berlomba-lomba untuk mengekspos dirinya dengan mengunggah foto dan video yang, bahkan hal-hal yang tidak senonoh pun mereka unggah agar menjadi viral di dunia maya. Dari beragam foto dan video yang terekspos di dunia maya, unggahan yang paling teratas menunjukkan pengguna dari kalangan remaja perempuan. Hal ini dikarenakan beberapa dari remaja perempuan sangat suka berswafoto ria, ceriwis, dan aktif di media sosial yang tidak hanya bertujuan mencari teman atau penggemar saja, tetapi juga ajang untuk mencari pasangan secara online. Hal-hal tak terduga yang sering mereka lakukan tersebut akan memancing dan mengundang para penjahat online dalam menggali banyak informasi pribadi nantinya. Korban yang sebagian besar menjadi sasaran kekerasan berbasis gender online (KBGO) adalah beberapa remaja perempuan yang selalu mengunggah informasi, foto maupun video yang mengandung unsur seksisme, ketelanjangan atau aktivitas seksual. Beberapa bentuk kekerasan yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan online, seperti: mencomot foto atau video korban, mengambil informasi pribadi dari bio Instagram, stalker akun pribadi, memberikan komentar negatif yang berujung seksisme, mengirim pesan menggoda yang bahkan hingga mengajak untuk melakukan perbuatan yang tidak senonoh, men-screenshot unggahan korban, membuat akun tiruan dengan nama lain seolah-olah mirip korban dan mengunggah hal-hal yang negatif untuk merusak reputasinya, memata-matai menggunakan akun milik orang lain, mencari lokasi keberadaan korban, dan hal-hal lain yang mana dapat membuat korbannya menjadi risih dan terganggu hingga pada akhirnya dapat menderita secara fisik maupun mental. Menurut data dari hasil survei yang dilakukan oleh Awas KBGO pada tahun 2020, yang menunjukkan bahwa kurang lebih sekitar 67% perempuan Indonesia pernah mendapatkan perlakuan kekerasan gender online. Selama dekade terakhir, Komnas Perempuan yang telah mencatat setidaknya ada 8 (delapan) bentuk kekerasan berbasis online, seperti: cyber grooming, cyber harassment, hacking, infringement of privacy, illegal content, malicious distribution, online defamation, dan ada juga online recruitment. Lembaga negara tersebut melaporkan bahwa pada tahun 2020 telah terjadi peningkatan terkait pelecehan seksual siber sebanyak 348% yang mana dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari banyaknya kasus kekerasan tersebut bahwa bentuk pelecehan yang sering dilakukan berupa ancaman untuk menyebar media tidak senonoh (37,5%), pornografi balas dendam (15%), dan penuntutan foto atau video tidak senonoh (10,4%). Dampak yang ditimbulkan dari kekerasan ini dapat berupa pengaruh mental atau psikologis, kerugian ekonomi, keterbatasan mobilitas, keterasingan sosial, hingga pada bentuk ketakutan dan sensor diri dalam menggunakan media sosial. Kasus kekerasan terhadap remaja perempuan berbasis gender online yang pernah terjadi selama ini, seharusnya dapat menjadi peringatan dan pelajaran bagi semuanya untuk tidak mengunggah berbagai hal yang tidak sewajarnya ke dalam media sosial. Bagi seluruh remaja, baik perempuan maupun laki-laki terlebih dahulu mengedukasi diri tentang hal-hal yang berkaitan dengan batasan keamanan dan peraturan privasi sebelum berselancar di dunia maya. Para remaja terutama pada remaja perempuan dapat berupaya meminimalisir pelecehan seksual berbasis online dengan Account Privacy Security Activation (APSA). Account Privacy Security Activation (APSA) merupakan sistem keamanan yang diberikan oleh pihak Instagram agar para penggunanya dapat membatasi orang lain yang ingin melihat profilnya. Sistem ini memberikan batasan penuh kepada akun yang belum diterima oleh pemilik akun. Orang lain hanya bisa melihat nama pengguna, identitas singkat pada bio, jumlah penggemar dan postingan, dan kirim pesan. Namun tidak bisa melihat postingan, memberikan suka, menulis komentar, melihat cerita, dan lain sebagainya. Sistem tersebut mampu memberikan keamanan penuh kepada para penggunanya, tetapi sebaliknya mereka malah ingin menjadi viral dan dikenal oleh banyak orang tanpa memerhatikan keamanan diri di dunia maya. Pengoperasian yang sangat mudah dan keamanan yang terorganisir juga mampu meminimalisir adanya bentuk kekerasan berbasis gender online. Instagram sekarang memberikan layanan berupa peralihan akun ganda dengan fungsi yang berbeda. Akun pribadi berfungsi sebagai akun keseharian para pengguna dengan pembatasan bagi orang lain yang ingin melihat, sedangkan akun bisnis berfungsi sebagai akun yang berguna dalam mempromosikan produk untuk dapat dilihat oleh banyak orang. Alangkah baiknya para pengguna terutama remaja untuk menggunakan fungsi yang ada secara baik dan benar agar dapat memberikan perlindungan yang sesuai. Apabila hanya untuk aktivitas sehari-hari, maka gunakanlah Account Privacy Security Activation. Sebaliknya apabila ingin menjalankan bisnis online, maka gunakanlah business account. Pihak pengembang Instagram sudah menciptakan keamanan pengguna yang sedemikian rupa agar bisa digunakan oleh para penggunanya sesuai dengan penggunaan media sosial mereka masing-masing.

Penutup
Pengguna remaja terutama perempuan harus berhati-hati dalam memakai media sosial. Bagi remaja laki-laki juga harus bersikap sopan dan menghormati remaja perempuan dengan tidak menggoda serta memberikan perlindungan ketika terjadi pelecehan seksual di media sosial tersebut. Seluruh pengguna memberikan peranan penting dengan cara menggunakan media sosial secara bijak dan benar. Account Privacy Security Activation (APSA) mampu meminimalisir terjadinya kasus pelecehan seksual karena tidak menampilkan identitas dan postingan para pengguna. Walau sistem ini sudah dianggap aman, tetapi tidak menutup kemungkinan masih terjadi kebocoran data pengguna. Sehingga perlu adanya gerakan kepedulian antar sesama pengguna untuk saling menjaga dan mencegah terjadinya kekerasan online. Selain itu, pengguna diharapkan untuk melapor ke SAFEnet dan Cyber Police agar pelaku dapat dihukum agar tidak terjadi kekerasan yang sama. Para korban yang mendapat kekerasan online dapat diberikan rehabilitasi dan bimbingan agar tidak mengalami Editiovultaphobia. Lindungi privasi mulai dari sekarang, jangan terlena untuk menjadi viral. Sehingga dengan upaya ini dapat menjadi bagian dalam meminimalisir dan juga memperjuangkan hak-hak perempuan untuk terlindung dari kekerasan berbasis gender online (KBGO). Seorang ibu hebat Raden Ajeng Kartini sudah bersusah payah dalam memperjuangkan derajat perempuan, maka jangan buat citra perempuan menjadi buruk hanya karena tingkah laku yang negatif di media sosial. Upaya Account Privacy Security Activation (APSA) ini menjadi langkah nyata dalam membasmi tindak kekerasan terhadap perempuan. Pada masa ini perempuan sudah merasakan kebebasan dalam melakukan berbagai hal dan tidak terkungkung oleh banyaknya aturan seperti yang ada di masa lalu. Namun, dari kebebasan yang sudah diupayakan mati-matian oleh ibu Kartini jangan sampai disalahgunakan apalagi dianggap remeh yang dapat merusak kehormatan perempuan selama ini. Alangkah baiknya sebagai perempuan yang hebat untuk selalu menjaga kehormatan diri dengan menjaga sikap dan berwawasan yang luas seperti sosok Kartini. Walaupun menjadi sosok Kartini muda itu sulit, tetapi dengan usaha yang dilakukan itu maka seseorang tidak akan menganggap remeh dan berani dengan perempuan.

Pandu Rudy Widyatama

Perkenalkan, nama saya Pandu Rudy Widyatama. Saya biasanya dipanggil dengan nama sebutan Pandu. Saya seorang mahasiswa S1 PPKn dan sedang mengenyam pendidikan di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Posting Komentar

Ayo Berbagi Pengetahuan

Lebih baru Lebih lama